Senin, 22 Oktober 2012


ADIL

Adil yaitu memberikan / membagikan  sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Ada juga yang menafsirkan adil itu berarti menunjukkan sikap berpihak kepada yang benar, tidak berat sebelah, dan tidak memihak salah satunya.  Adil juga dapat diartikan sebagai perbuatan yang sesuai dengan orma-norma atau aturan-aturan yang berlaku.
Dalam al-qur’an banyak ayat-ayat yang  berhubungan dengan karakter adil.
·         Qs.Al-maidah : 8
·         Qs.An-nisa : 105
·         Qs.Al-an’am : 152
·         Qs.Al-a’raf : 29

Qs. Al-maidah : 8
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena allah, manjadi saksi adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat pada allah.
Jadi, kita harus bisa menjadi orang yang menegakan keadilan. Karena adil itu dekat dengan allah.
Qs.Al-an’am : 152
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang bermanfaat, sehingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikul beban kepada seseorang  melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji allah. Yang demikian itu di perintahkan allah kepadamu agar kamu ingat.
Qs.An-nisa : 105
Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang yang tidak bersalah, karena membela orang khianat.

Qs.Al-a’raf : 29  
Katakanlah : tuhanku menyuruh menjalankan keadilan dan luruskanlah mukamu di setiap shalat dan sembahlah allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya. Seperti Dia menciptakan kamu pada permulaan kamu akan kembali kepade-Nya.  

Point-point tentang adil
·         Yang membuat islamakan tegak adalah keadilan umat-umatnya yang taat kepada allah dan rasul. (Ibnu rawahah)
·         Walaupun kita berbuat adil dengan sebaik-baiknya, tetap saja tidak ada keadilan yang lebih baik dari keadilan allah.
·         Berbuat baik kepada orang lain itu mudah, tapi berbuat baik kepada orang yang jahat itu sangat sulit. Hanya jiwa yang suci yang mampu berbuat adil. Jadi, berbuat adil itu harus diawali dengan hati dan fikiran yang suci


Kisah Raja yang Adil
Oleh
Dr. H. Rusli Hasbi, MA
Hijrah ke Ethiopia
Dalam kisah ini kita dapat menghayati bagaimana perjuangan Rasulullah dalam mempertahankan akidah dan keselamatan nyawa kaum muslimin Mekkah pada permulaan Islam. Umat Islam pada waktu itu adalah kaum minoritas. Dakwah Rasulullah dan keberadaan mereka telah menimbulkan kekhawatiran dan kamarahan tokoh-tokoh musyrikin Mekkah. Mereka berusaha menggagalkan perjuangan Nabi dengan berbagai fitnah dan tindakan kekerasan. Mereka tidak segan-segan melakukan penyiksaan dan intimidasi agar semangat para pengikut Nabi menjadi pudar hingga mereka mau kembali ke agama yang mereka anut sebelumnya.
Akhirnya Rasulullah memutuskan untuk menghijrahkan mereka dan mempersilakan siapa saja yang bersedia untuk meninggalkan sementara kota Mekkah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Arti hijrah secara terminologi adalah “berpindah”. Hijrah di sini maksudnya adalah berpindah ke tempat lain yang lebih kondusif untuk tujuan penyelamatan dan penyusunan strategi serta kekuatan untuk menguasai kembali daerah yang ditinggalkan. Pilihan Rasulullah jatuh pada negara Habsyah (Ethiopia) yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang raja yang terkenal bijaksana bernama Najjasyiy.
Dalam Zabur disebutkan bahwa Najjasyiy adalah penganut agama Nabi Isa a.s. (Nasrani). Keadilan Najjasyiylah yang menjadi pertimbangan Rasulullah untuk menganjurkan para sahabat dan pengikut-pengikutnya berhijrah ke sana meskipun beliau tahu pemimpinnya adalah seorang non-muslim. Faktor lain yang membuat Rasulullah lebih yakin dengan keputusannya adalah adanya kesamaan visi antara dakwah Nabi dan Najjasyiy, yakni menjunjung tinggi keadilan. Li anna fiha malikan la yudhlamu ‘indahu ahadun… tidak ada seorang manusia pun yang terzalimi di bawah pimpinan Najjasyiy.
Rombongan pertama berjumlah 15 orang terdiri dari sebelas laki-laki dan empat perempuan. Di antara mereka terdapat Usman bin Affan dan istri beliau Ruqayyah yang juga putri Rasulullah Saw, Zubir bin Awwam dan Abu Huzaifah beserta keluarganya. Di sini saya ingin menjelaskan sedikit tentang sosok Zubair bin ‘Awwam yang sangat jarang kita dengar kisahnya padahal kedudukan dan kapasitas ilmu pengetahuan beliau setara dengan para Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali). Zubir bin Awwam adalah salah seorang dari sepuluh sahabat (termasuk para khulafaurrrasyidin) yang mendapatkan jaminan masuk surga berdasarkan hadits shahih. Mereka ini dinamakan dengan al mubasysyaruna bil Jannah.
Adapun yang tinggal dan bertahan di Mekkah pada waktu itu adalah mereka yang bertekad mempertahankan nyawa dan imannya di tengah ancaman dan intimidasi yang dilakukan kaum Quraisy, termasuk Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan lain-lain.
Setelah keberangkatan rombongan pertama, kaum muslimin yang menyusul dan pindah ke Ethiophia pun bertambah. Bahkan, jumlah mereka mencapai 101 orang yang terdiri dari 83 laki-laki dan 18 perempuan.
Reaksi Quraisy
Perkembangan tersebut ternyata menimbulkan kekhawatiran di kalangan kaum musyrikin Mekkah terutama para tokohnya. Akhirnya mereka mengirimkan dua orang utusan ke Ethiopia, yaitu ‘Amru bin ‘Ash (sebelum ia masuk Islam) dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Misi dari para utusan tersebut adalah untuk bernegosiasi dengan Najjasyiy supaya memulangkan orang-orang yang mendapat suaka politik darinya.
Selanjutnya, untuk memuluskan rencana mereka, para pemuka Quraisy mengirimkan bersama utusan mereka hadiah-hadiah berharga yang diperuntukan kepada raja Najjasyiy dan para menterinya…wa hammalathuma bikatsirin min al-hadaya ats-tsaminah……(Mereka berdua dibekali dengan hadiah-hadiah yang berharga).
Setibanya di Ethiopia mereka kemudian berhasil menghadap sang raja. Di hadapan Raja, ‘Amru bin Ash berkata, “Ayyuhal malik al-’adhim…Wahai raja yang agung, apakah Anda kedatangan rombongan dari Mekkah yang meminta suka politik ke negara Anda? Mereka adalah para pengacau dan pembangkang Mekkah yang tidak mau bergabung dengan kami dalam satu keimanan, yaitu menyembah patung. Orang-orang itu mengaku dirinya sebagai pengikut Muhammad bin Abdullah yang menyembah Allah. Wahai Sang Raja yang besar dan agung….walam yadkhulu fi dinika…. mereka yang datang bersuaka politik ke sini juga tidak punya keinginan sedikit pun untuk memeluk agama yang anda anut (Nasrani)”.
“…waja-u bi dinin jadidin la na’rifuhu..Wahai yang mulia. mereka datang dengan pemikiran dan agama baru yang tidak kami ketahui sumber dan asal-usulnya. Kami tidak bisa menerima agama dan pemikiran baru yang dibawa oleh Muhammad itu. Ji’na ilaika niyabatan ‘an asyrafil qaumihim….kami datang mewakili tokoh-tokoh dari kaum mereka dan memohon dengan segala hormat dan kemurahan hati Anda untuk mengembalikan mereka kepada kami. Tujuan kami hanyalah untuk menyelamatkan persatuan dan kesatuan kota Mekkah.”
Sikap Najjasyiy
Mendengar permintaan kedua utusan tersebut, Najjasyiy tidak dengan serta merta memenuhi permintaan mereka. Beliau adalah seorang yang bijaksana dan hatinya dipenuhi bibit-bibit keadilan. Beliau tidak mau hanya mendengar argumen dari sebelah sepihak, tetapi beliau juga ingin mendengar langsung pendapat dari kaum muslimin.
Akhirnya muslimin memilih juru rundingnya, yaitu Ja’far bin Abi Thalib, saudara kandung dari Ali bin Abi Thalib. Di hadapan Najjasyiy Jafar berkata, “… Kunna qauman ahlu jahiliyah…. benar kami mengakui dulunya kami adalah orang-orang jahiliyah 100 persen …na’budu al- ashnam…….kami menyembah dan menghormati patung yang kami buat dengan tangan kami sendiri .…Wanakkulu al- mayyita….. dalam kehidupan kami sebelumnya hanya bangkai yang kami makan……..wana’ti al fawahisya… dulunya kami sangat gemar melakukan perbuatan yang tercela…wanaqtha’ ar rahma.. Kalau ada perbedaan pendapat sekali pun itu antara kakak beradik, nafsulah yang mengendalikan kami sehingga tidak ada di antara kami yang mengalah sampai salah seorang dari kami terbunuh. …wa nusi-u al jiwara…kami terbiasa berbuat hal-hal yang menyakiti tetangga kami sendiri…wa yakkulu al qawi minna adh dha’if …siapa yang kuat dialah yang menang dan yang lemah menjadi magsa bagi yang kuat.
Begitulah kondisi kami sebelumnya, sampai muncul sosok bernama Muhammad yang berakhlak mulia. Sosok yang kami tahu asal asulnya, dari keturunan baik-baik dan tidak pernah berbuat zalim kepada sesama. Muhammad memberikan kami pencerahan dan mengajak kami …illa ‘ibadatillah…untuk menyembah Allah, tidak lagi menyembah patung dan batu yang tidak dapat memberikan kami manfaat apapun, …wa amarana bi shidqi al- haditsi… mengajarkan kami agar bersikap sopan dan berkata jujur, …wa shilaturahim… menjaga hubungan silaturrahmi, …wa hushnu al jiwari…berbuat baik kepada tetangga-tetangga kami, menghentikan pertumpahan darah, mencegah kami dari perbuatan keji dan tercela. Dia memerintahkan kami agar hanya menyembah Allah yang Esa, serta menyuruh kami mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat dan berpuasa. Lalu kami percaya kepadanya dan beriman kepada Allah dan ajaran-ajaran-Nya yang disampaikan kepada kami oleh Muhammad. Kaum kami menjadi marah, lalu kami dikejar-kejar dan disiksa agar kami kembali kepada agama nenek moyang kami yang menyeru kepada penyembahan berhala. Karena kami tidak tahan dengan segala kekerasan dan intimidasi yang mereka lakukan, lalu kami datang ke sini meminta perlindungan Anda. Kami tahu anda adalah seorang bijaksana dan tidak akan pernah menyakiti kami”.
Najjasyiy terpana mendengar argumentasi dan gaya bicara Ja’far bin Abi Thalib. Lalu ia berkata “…asmi’ni syai-an mimma yaquluhu rasulukum…”, tolong perdengarkan kepadaku sedikit saja tentang perkataan dan bahasa yang disampaikan kepada kalian oleh Muhammad. Ja’far mengatakan, “Muhammad tidak meperdengarkan apapun kepada kami kecuali ayat-ayat Allah.” Lalu ia membaca salah satu ayat dari Surah Maryam sampai pada kalimat …fa-asyarat ilaihi qalu kaifa nukallimu man kana fi al mahdi shabiyya…yang artinya ..”maka Maryam memberi isyarat kepadanya (Isa). Lalu kaumnya Maryam berkata: bagaimana kami bisa berbicara dengannya sedangkan dia masih bayi?” Begitu mendengar ayat-ayat Al-Quran yang menceritakan tentang Nabi Isa dan Maryam, yaitu dua sosok yang sangat dikagumi oleh Najjasyiy, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Air matanya berurai sampai membasahi jenggotnya yang panjang. Para menteri yang hadir juga ikut menangis. Najjasyiy lalu berkata, “Ini adalah sebuah kebenaran tentang Isa. Wahai Amru dan Abdullah pergilah kalian dari sini, saya tidak akan mengembalikan kaum muslimin kepada kalian, karena saya tahu kalian akan menyakiti dan membunuh mereka. Kaum muslimin berada pada posisi yang benar.”
Inilah keputusan sang raja yang adil, namun kedua utusan tersebut tidak langsung pulang ke Mekkah. Keesokan harinya mereka kembali membujuk Najjasyiy, namun mereka gagal karena keputusan Najjasyiy sudah bulat. Akhirnya mereka pulang dengan tangan hampa.
Kiat – kiat adil
·         Saling menasehati untuk berbuat adil.
·         Memberikan / melakukan sesuatu dengan adil.
·         Memberikan sesuatu sesuai porsinya